Sering kali, kita terjebak dalam pola pikir bahwa Natal identik dengan kemeriahan fisik: hadiah mewah, lampu yang berkilau, pohon Natal, dan berbagai perayaan besar. Namun, semua kemeriahan itu ada batasnya. Begitu perayaan usai, rasa sukacita itu sering kali ikut memudar, meninggalkan perasaan kosong kembali. Demikian pula dengan damai sejahtera yang dirasakan saat Natal. Banyak orang saling mengampuni hanya di momen ini, namun kembali pada sikap iri hati dan kebencian setelah perayaan selesai. Hal ini menunjukkan bahwa Natal sering kali hanya dijadikan alat sementara untuk merasakan kedamaian yang semu.
Dalam Lukas 2:10-12 memberikan makna natal yang sangat dalam bahwa Sukacita Natal yang sejati tidak bergantung pada situasi atau kondisi luar, melainkan harus selalu ada di dalam hati dengan berpusat pada pribadi Yesus Kristus. selain itu menekankan bahwa Kelahiran Kristus membawa sukacita luar biasa yang berasal langsung dari Allah. Sukacita ini bukan hanya milik sekelompok orang, melainkan dianugerahkan bagi semua orang, terutama mereka yang terpinggirkan dan membutuhkan. Karena itu dalam perayaan natal Tuhan tidak menghadirkan sukacita melalui kemewahan, melainkan melalui bayi yang lahir di kandang hina dan dibungkus lampin. Melalui kesederhanaan ini, Kristus merendahkan diri agar dapat memahami dan menjangkau seluruh umat manusia. Sebab itu sebagai orang percaya Natal memanggil kita untuk meninggalkan kesombongan dan menjalani hidup dengan kerendahan hati serta kasih yang tulus agar setiap orang dapat merasakan kehadiran Kristus.